Skip to main content

Korelasi Grafis


KORELASI GRAFIS


Disarikan dari
K.O. Mann dan HR Lane. 1995. Graphic correlation: A powerful stratigraphic technique comes of age.
Dalam: K.O. Mann dan H.R. Lane (peny.) Graphic Correlation. SEPM Spec. Pub. 53, 1-13.


Pendahuluan

     Sewaktu bekerja sebagai seorang insinyur sipil di Inggris, William Smith memegang peranan kunci dalam pembentukan ilmu biostratigrafi ketika dia menyatakan bahwa berbagai spesies invertebrata yang berbeda-beda merupakan penciri dari paket “secondary formations” yang ada di Inggris (Rudwick, 1976). Berdasarkan pengetahuannya itu, Smith kemudian memformulasikan apa yang di Inggris dewasa ini dikenal sebagai prinsip urut-urutan fauna (the principle of faunal succession), sekitar enam puluh tahun sebelum Darwin (1859) menerbitkan Origin of Species. Teori evolusi Darwin, melalui variasi dan seleksi alam, menjelaskan mengapa urut-urutan kronologis dari berbagai organisma dapat muncul dalam rekaman geologi. Penggabungan azas urut-urutan fauna dengan azas superposisi tidak hanya memungkinkan para ahli geologi untuk mengembangkan sebuah skala waktu geologi yang lebih baik, namun juga memungkinkan mereka untuk memperluas cakungan geografis dari berbagai bentuk korelasi yang dibuatnya.
     Meskipun biostratigrafi, paleobiogeografi, dan paleoekologi terutama menujukan perhatiannya pada penyebaran fosil dalam kerangka ruang dan waktu, namun para ahli biostratigrafi terutama menujukan perhatiannya pada urut-urutan vertikal berbagai jenis fosil serta pada pemakaian pengetahuan mengenai urut-urutan tersebut untuk menentukan urut-urutan kronologis batuan dan untuk mengkorelasikan batuan. Sejak dikembangkannya konsep zona fosil pada abad 19, para ahli biostratigrafi secara tradisional menggunakan zona-zona tersebut untuk menetapkan skala waktu relatif. Idealnya, zona-zona biostratigrafi itu memiliki kisaran waktu yang terbatas, memiliki lingkup geografis yang luas, serta memiliki batas-batas yang praktis merupakan bidang waktu. Zona-zona biostratigrafi mengandung konotasi waktu dan dapat dikenali keberadaannya dalam batuan yang mengandung fosil (Johnson, 1992). Meskipun ada sejumlah faktor yang membatasi penyebaran dan preservasi organisme dalam batuan (misalnya fasies, batas-batas ekologi, migrasi, penyebaran, kepunahan lokal, taksonomi, kekeliruan pengenalan fosil, erosi, dan metamorfisme), namun para ahli geologi telah mampu menentukan zona-zona biostratigrafi dan menghasilkan suatu skala waktu relatif.
     Sejak kelahiran biostratigrafi, para ahli stratigrafi terus-menerus didorong untuk menyempurna-kan skala waktu geologi dan berbagai skema korelasi. Analisis kuantitatif terhadap fauna Tersier yang dilakukan oleh Lyell merupakan salah satu contoh usaha awal untuk menghasilkan sebuah kronometer kuantitatif yang berupa fauna, dengan alat mana berbagai peristiwa atau proses geologi dapat diukur dan diperbandingkan (Rudwick, 1978). Sejak saat itu, para ahli biostratigrafi mencoba mengembangkan sejumlah teknik kuantitatif untuk memperoleh tingkat resolusi setinggi mungkin berdasarkan rekaman batuan. Dengan meningkatkan resolusi stratigrafi—yang dilakukan dengan cara membagi skala waktu geologi ke dalam bagian-bagian yang lebih kecil, memiliki penyebaran yang luas, dan bersifat konsisten—para ahli geologi akan mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan geologi yang memerlukan tingkat resolusi tinggi.


Tinjauan Umum mengenai Korelasi Grafis

     Shaw (1995) menemukan bahwa zona-zona biostratigrafi tradisional tidak mampu menjawab masalah-masalah stratigrafi yang dia hadapi. Hal itulah yang kemudian mendorong dia untuk menciptakan korelasi grafis (graphic correlation). Korelasi grafis dibuat dengan cara merajahkan data-data dari dua penampang terukur. Penampang-penampang itu ditempatkan sedemikian rupa sehingga bagian bawah kedua penampang itu berpotongan pada titik asal sumbu-sumbu diagram korelasi grafis. Biasanya, pemunculan awal dan pemunculan akhir taxa fosil merupakan data utama yang dimasukkan ke dalam diagram tersebut. Shaw (1964) melihat bahwa fosil menjadi bermanfaat karena adanya suatu premis yang menyatakan bahwa taxa fosil yang punah merupakan “ukuran” yang dapat digunakan untuk membagi-bagi waktu ke dalam tiga bagian utama: waktu sebelum organisme itu muncul, waktu pada saat organisme itu hidup di dunia ini, dan waktu setelah organisme itu punah. Jika kedua penampang memiliki kisaran waktu yang identik, memiliki laju akumulasi yang sama, mengandung sejumlah titik data yang sama dimana titik-titik yang saling berkorespondensi menyatakan titik-titik waktu yang sama, maka titik-titik plot yang dirajahkan pada diagram korelasi grafis itu akan terletak pada suatu garis yang tepat membagi diagram tersebut ke dalam dua bagian yang sama. Grafik yang sederhana itu menambah manfaat teknik tersebut karena akan mendorong kita untuk memperhatikan keseluruhan data yang ada. Garis yang menghubung-kan titik-titik itu disebut garis korelasi (line of correlation; LOC). 

Comments

Popular posts from this blog

Monitoring dan laporan drilling migas (mudlogger)

MONITORING DAN SISTIM PELAPORAN 2.1. DRILLING MONITOR Pengamatan dan pencatatan  semua parameter drilling baik saat drilling ataupun reaming, tiap 5 menit atau jika terjadi perubahan parameter. Hal ini untuk mengetahui lebih cepat bila terjadi perubahan parameter atau memudahkan pencarian data bila sewaktu-waktu terjadi pertanyaan.  Adapun parameter yang perlu dicatat/diamati ( waktu (jam,mnt), depth, RPM, WOB, ROP, Flow rate (gpm), SPP, Torque, hook load, gas, total pit volume, G/L ) pencatatan dalam bentuk tabulasi. Cocokkan semua parameter dengan rig floor Perubahan WOB yang significant, konfirmasikan dengan rig flor ROP cepat ( drilling break) maupun ROP lambat (reverse break) spot sample dan perhatikan gas setelah bottom up. SPP >> kemungkinan nozzle plug/buntu sebagian, annulus penuh cutting, atau surface line problem.  SPP << wash pipe, pipa putus/bit lepas , atau surface line. Perubahan Flow r...

Model Fasies Walker

Model Kipas Bawah Laut Walker Menurut Walker 1978, secara garis besar kipas bawah laut dibagi menjadi 3 bagian, yaitu : kipas atas (upper fan), kipas tengah (middle fan), dan kipas bawah (lower fan). a) Kipas Atas (upper fan) Kipas atas merupakan pengendapan pertama dari suatu sistem kipas laut dalam, yang merupakan tempat dimana aliran gravitasi itu terhenti oleh perubahan kemiringan. Oleh karena itu, seandainya aliran pekat (gravitasi endapan ulang) ini membawa fragmen ukuran besar, maka tempat fragmen kasar tersebut diendapkan 69 adalah bagian ini. Fragmen kasar dapat berupa batupasir dan konglomerat yang dapat digolongkan ke dalam fasies A,B dan F. Bentuk lembah-lembah pada kipas atas ini bermacam-macam, bias bersifat meander, bias juga hampir berkelok (low sinuosity). Mungkin hal ini berhubungan dengan kemiringan dan kecepatan arus melaluinya, ukuran kipas atas ini cukup besar dan bervariasi tergantung besar dan kecilnya kipas itu sendiri. Lebarnya bisa mencapai mula...

BOP Subsea (Blow Out Preventer Subsea)

       Dengan semakin tingginya kebutuhan energi pada saat ini maka industri pengeboran lepas pantai dituntut untuk bisa mengeksplorasi lautan atau daerah yang belum bisa dijamah sebelumya. Saat ini disain yang paling mutakhir adalah untuk kedalaman laut sampai 14.000 ft (4266 meter). Dikarenakan jarak atau kedalaman laut yang sangat dalam ini maka bidang pengontrolan sumur pun harus mampu mengikuti perkembangan tersebut. Blow Out Preventer (BOP) merupakan secondary well control. Maksudnya adalah bahwa BOP hanya berada di urutan kedua dalam proses pengendalian sumur. Primary well control menggunakan lumpur, karena lumpur akan menjembatani antara kita yang berada di permukaan dan sumur. Seandainya lumpur sudah tidak mampu lagi mengendalikan sumur maka BOP akan berfungsi untuk mengisolasi sumur untuk sementara waktu. Sistem kontrol BOP adalah suatu sistem yang digunakan untuk melakukan pengontrolan BOP yang terpasang di dasar laut atau di permukaan. Pada saat ini ad...