DRILLING FLUIDS (LUMPUR PEMBORAN)
Lumpur
pemboran merupakan bagian penting dalam suatu proses pemboran. Untuk itu
diperlukan pengontrolan sifat fisik dan kimia ( chemical treatment) yang
kontinu selama pemboran berlangsung. Lumpur yang mempunyai sufat
fisik dan kimia yang baik akan memberikan fungsi secara optimum.
Adapun fungsi
Lumpur pemboran adalah :
1. Sebagai
media pengangkat cutting
2. Penahan
tekanan formasi
3. Sebagai
pelumas dan pendingin pahat.
4. Media
Wireline logging
Berdasarkan
media pelarutnya, Lumpur pemboran dibagi menjadi 3 macam yaitu :
- Water
Base Mud -- air sebagai media
pelarutnya
- Natural
Oil Base Mud ---- Saraline ( palm
crude oil/minyak sawit ) sebagai media pelarutnya
- Oil
Base Mud ---- Diesel/Solar sebagai media pelarutnya.
7.1.
SIFAT-SIFAT LUMPUR
1.
MUD
WEIGHT ( BERAT LUMPUR )
Berat Lumpur merupakan
sifat lumpur yang menyatakan berat per satuan volume ( berat jenis )Biasanya
dinyatakan dengan ppg (pound per gallon) atau Sg (specific gravity). Mud weight
Lumpur sangat berpengaruh dalam menahan tekanan formasi. Mud weight masuk dan
keluar harus selalu dipantau, karena akan memberikan gambaran sifat
lobang/formasi .
2.
FUNNEL
VISCOSITY
Dapat digunakan sebagai
indicator perubahan sifat-sifat alir, walaupun bukan suatu hal yang harus
dipakai sebagai pengukuran viscositas yang sebenarnya.
3.
PLASTIC
VISCOSITY
Adalah ukuran tahanan
alir akibat interaksi mekanik dari padatan (solid ) dalam system Lumpur dan
dikontrol dengan pengenceran atau alat mekanik seperti centrifuge, dan
lain-lain.
4.
YIELD
POINT
Adalah ukuran daya tarik menarik antara partikel padatan dalam Lumpur.
Yield Point yang terlalu rendah dapat mengakibatkan pengendapan barite dan
pembersihan lobang tidak optimal. Sedangkan Yield Point tinggi dapat
mengakibatkan naiknya tekanan sirkulasi (SPP), sulit diaduk dalam tank dan
cenderung menahan gas dalam Lumpur.
Untuk menaikkan Yield Point dibutuhkan
bentonite dan bahan lainnya. Data penelitian penunjukkan padatan asing
merukapan factor utama pengganggu terhadap yield point. Padatan penggangu akan
menjadi masalah bila proses perawatan secara kimia gagal.
5.
GEL
STRENGTH
Adalah ukuran dari ketahanan Lumpur
untuk mengalir dari kondisi diam. Gel strength harus cukup tinggi untuk
menahan cutting tidak bergerak turun ketika Lumpur dalam keadaan diam/tidak
disirkulasikan.
6.
WATER
LOSS
Water loss biasanya
mempunyai batas yang didasarkan atas pengalaman di lapangan. Oleh karena
banyaknya factor yang mempengaruhi tinggi rendahnya water loss, maka bukan
merupakan ukuran yang mutlak tentang kondisi Lumpur. Setiap pertimbangan
menentukan water loss harus mepertimbangkan pula sifat-sifat filter cake.
Analisa filter cake lebih merupakan
seni dari pada ilmiahnya, tetapi membutuhkan keahlian tersendiri. Suatu cake
yang baik bersifat tipis, halus dan kenyal. Sebaliknya cake yang jelek adalah
tebal, berpasir dan getas. Hal yang perlu diperhatikan pada saat pengujian
filter cake adalah :
·
Ketebalan
cake adalah hal yang pertama yang harus diukur. Ini hanya merupakan suatu
ukuran kualitatif
·
Kelicinan
dapat diukur/diraba dengan telunjuk
·
Cake sebaiknya dapat ditekuk sebelum patah. Cake yang
jelek hanya dapat ditekuk sedikit dan kemudian patah, cake yang baik dapat
ditekuk menjadi lipatan sebelum patah.
·
Pengujian lain adalah meletakkan cake pada permukaan
datar dan tusuk dengan jari di atasnya. Cake yang baik akan tembus sebelum
patah atau pecah. Cake yang jelek akan patah dan pecah.
·
Meskipun pengujian tersebut di atas bersifat
subyaktif dan tidak pasti, namun dianggap cukup valid. PENGALAMAN DALAM MENILAI KUALITAS FILTRAT
CAKE MERUPAKAN ALAT BERHARGA UNTUK MENDIAGNOSE PERMASALAHAN LOBANG BOR.
7.
SOLID
CONTROL
Permasalahan solid
control merupakan permasalahan klasik untuk Lumpur dengan Sg melebihi air.
Biasanya padatan (solid) dikontrol dengan pengenceran, desilter dan menggunakan
saringan halus shale shaker. Ketika solid konten yang dibutuhkan lebih rendah,
desilter diganti dengan centrifuge dan saringan shale shaker diganti yang lebih
halus.
8.
CHLORIDE
Chloride sebaikknya
selalu diukur secara tetap agar perubahan penting yang terjadi dapat segera
dianalisa, dan segera diambil tindakan yang tepat dan cepat terhadap perubahan
yang terjadi. Chloride dilaporkan dalam ppm (part per million) adalah fungsi
beberapa factor :
·
Kandubgan
garam dalam Lumpur
·
Kandunga
garam formasi
·
Aliran
air asin (salt water )
·
Tambahan
garam ntuk memperbaiki sifat Lumpur.
9.
TITRATION
TEST
Titration test pada
Lumpur pemboran dilakukan menurut tipe dan jenis Lumpur. Hal hal tang perlu
dipahami tentang cara uji dan hasil yang didapatkan :
·
PH
adalah suatu pengukuran yang berhubungan dengan alkalinitas, pada Lumpur
diperlukan PH > 7. Penambahan thinner membutuhkan PH alkaline dan efek
kontaminasinya dapat diperkecil dengan penggunaan PH tinggi
·
Pf
– phenolphthalein alkalinity—adalah alkalinity akibat ion hydroxyl dalam
filtrate Lumpur. Perawatan pf secara umum membutuhkan caustic soda.
·
Mf
– Methyl orange alkalinity—adalah alkalinity akibat hydroxyl, karbonat dan
bicarbonate. Ketika diinterpretasikan secara bersama Pf dan Mf dapat digunakan
untuk menentukan asal dan jumlah dari alkalinity filtrate.
·
Pm
– Seluruh alkalinitas Lumpur, yang sering dilakukan untuk mengukur jumlah
kelebihan unsur kapur pada Lumpur. Perbedaan antara Pf (dissolved hydroxyl ion)
dan Pm (all hydroxyl ion) dapat digunakan untuk menghitung pound per barrel dan
kelebihan kapur (lime).
Comments
i really2 like ur dog :smille: