Skip to main content

sikuen stratigrafi


Sikuen stratigrafi adalah suatu metoda untuk mempelajari stratigrafi berdasarkan siklus pengendapan yang dibatasi oleh bidang-bidang ketidakselarasan yang membedakan dengan siklus pengendapan yang lain.
Dasar terpenting dalam sikuen stratigrafi adalah pemahaman terhadap parameter dan proses sedimentasi serta siklus sedimentasi.

Parameter dan proses yang mengontrol sedimentasi
Pola sedimentasi pada sedimen silisiklastik non-marine dan shelf sangat dikontrol oleh dua parameter utama yaitu :
1.    Suplai sedimen
2.    Ruang yang potensial untuk sedimentasi (akomodasi)
Suplai sedimen
Suplai sedimen yang masuk ke dalam lingkungan pengendapan merupakan variasi dari perubahan iklim dan pengangkatan tektonik. Pengangkatan tektonik yang besar akan menyebabkan perubahan titik kesetimbangan (equilibrium point) sehingga mengakibatkan terjadinya erosi transportasi atau sedimentasi.
Akomodasi
Faktor yang paling penting yang mengontrol bentuk stratigrafi di lingkungan pengendapan sungai dan shelf adalah volume atau ruang yang tersedia untuk sedimen terendapkan.
Perubahan akomodasi di shelf merupakan pengaruh dari perubahan relatif muka air laut. Perubahan relatif muka air laut ini merupakan interaksi dari dua proses yaitu perubahan vertikal muka air laut global (eustasi) dan pergerakan vertikal terhadap bidang dasar pengendapan (tektonik).
1.    Akomodasi shelf
Pola sedimentasi yang terbentuk di shelf oleh variasi akomodasi adalah
a.    Bila muka air laut relatif naik dengan suplai sedimen kurang atau bahkan tidak ada, akan terjadi transgresi yang menyebakan pola sedimen yang menghalus ke atas.
b.    Bila muka air laut naik dengan diimbangi oleh supai sedimen yang cukup, maka akan terjadi penebalan sedimen dimana garis pantai akan konstan sehingga tidak terjadi perubahan fasies.
c.    Bila muka air laut tetap namun suplai sedimen terus bertambah maka akan terjadi regresi yang menyebabkan pola sedimen semakin kasar kearah atas dan garis pantai akan maju kearah laut.
Pengaruh proses laut terhadap sedimen shelf juga merupakan hal yang penting untuk diperhatikan. Saat sedimen masuk ke laut dari sungai, sedimen akan tersebar jauh dari mulut sungai oleh proses gelombang dan proses pasang-surut. Bila proses gelombang dan pasang-surut ini minimal, sedimen akan membentuk pola lobate dan relatif dangkal. Bila proses dominan pasang-surut maka sedimen akan berbentuk estuarine. Sedangkan bila proses dominan adalah gelombang, maka sedimen akan berbentuk memanjang sejajar garis pantai.
2.    Akomodasi sungai
Akomodasi sungai sangat dipengaruhi oleh perubahan relatif muka air laut, pergerakan vertikal oleh proses tektonik dan perubahan letak sungai.
Dua hal diatas akan menyebabkan perubahan profil kesetimbangan (equilibrium profile) sehingga akan berpengaruh terhadap sedimentasi dan erosi serta transportasi sedimen.
Pengaruh variasi muka air laut
a.    Perubahan horisontal alur sungai
b.    Muka air laut naik, maka mengakibatkan profil kesetimbangan mundur kearah darat sehingga terjadi sedimentasi
c.    Muka air laut turun, maka mengakibatkan profil kesetimbangan maju dan terjadi erosi
Pengaruh tektonik akan lebih meluas lagi pada seluruh profil sungai, sedangkan perubahan muka air laut hanya berpengahur terhadap mulut sungai.

Pola stratigrafi
Perubahan relatif muka air laut akan mengakibatkan pola stratigrafi regresi dan transgresi. Regresi adalah majunya garis pantai ke arah laut yang mengakibatkan pola stratigrafi mengkasar kearah atas. Transgresi adalah mundurnya garis pantai ke arah darat dan mengakibatkan pola stratigrafi menghalus ke atas.
Ada 2 tipe regresi yaitu :
Regresi normal, dimana suplai sedimen lebih besar dibandingkan dengan akomodasi.  Muka air laut konstan , suplai sedimen besar.
Regresi yang dipaksakan, dimana muka air laut turun tanpa adanya erosi. Muka air laut turun, sedimen konstan.

Siklus sedimentasi
Siklus sedimentasi yang dikenal adalah siklus regresi-transgresi yang selalu terulang dalam pola stratigrafi.
Ada dua kemungkinan penyebab siklus ini yaitu :
1.    Autocyclic
Adalah proses pembelokan/pemindahan delta yang berlangsung selama proses penurunan dasar cekungan sehingga menghasilkan penumpukkan siklus regresi-transgresi.
2.    Allocyclic
Pembentukan silkus regresi-transgresi oleh adanya perubahan muka air laut.
Hal yang terpenting untuk memisahkan satu siklus dengan siklus yang lain adalah munculnya lapisan tipis batuserpih yang melampar luas secara horisontal dan diendapkan saat banjir maksimum (maximum flooding surface/MFS).

Sikuen pengendapan
Ketika muka air laut turun, sedimen yang terakumulasi pada cekungan pengendapan disebut sebagai lowstand deposits. Tahap ini disebut Lowstand system tract (early). Sejalan dengan terus turunnya muka air laut, maka terjadi erosi di daerah sungai (darat) yang menyebabkan terjadinya ketidakselarasan stratigrafi dan merupakan rekaman selang waktu selama terjadinya penurunan muka air laut.. Sedangkan bagian shelf yang tetap berada di bawah muka air laut tidak terbentuk ketidakselasaran, tetapi yang terjadi adalah correlative conformity.
Ketika muka air laut berada pada keadaan stabil maksimum lowstand, tahap ini disebut Lowstand system tract (late), normal regresi terus  terjadi dan sedimen mulai membentuk pola agradasi.
Selanjutnya muka air laut akan naik perlahan dan pola sedimen akan menjadi onlap terhadap bidang ketidakselarasan ke arah darat. Pada saat muka air laut naik dengan cepat, akomodasi bertambah dengan cepat namun suplai sedimen tetap maka terjadilah pola sedimentasi transgresi. Tahap ini disebut transfresive system tract.
Pada saat terjadi maksimum kenaikan muka air laut, dimana kenaikan mulai berkurang dan akhirnya muka air laut stabil, akan terbentuk endapan tipis batuserpih yang menyebar luas, dan mewakili kurun waktu pengendapan yang lama. Tahap ini disebut highstand system tract.
Siklus regresi-transgresi yang terjadi selama kurun waktu perubahan mukan air laut ini akan membentuk satu sikuen pengendapan. Bila terjadi lagi penurunan muka air laut maka akan terulang kembali siklus seperti diatas.

System tract
1.    Lowstand system tract (LST)
Terbentuk ketika muka air laut turun dengan cepat, keadaan stabil pada maksimum penurunan muka air laut dan pada saat air laut mulai naik dengan lambat.
Sistem ini menghasilkan sedimen regresi yang dapat dibedakan menjadi 2 yaitu :
a.    endapan regresi di pantai dan prodelta
b.    endapan sungai yang mengisi incised valley
LST ini akan terletak diatas ketidakselarasan yang merupakan batas sikuen (Sequence Boundary/SB)
2.    Transgresive Highstand system tract (TST)
Terbentuk ketika muka air laut naik dengan cepat sedangkan suplai sedimen tetap/berkurang. Bagian paling atas dari TST ini adalah maximum flooding surface (MFS). Ciri endapan TST adalah :
·         Kaya akan shale
·         Merupakan sumber dari batuan induk yang baik
·         Semakin halus kearah atas
·         Merupakan sedimen yang tebal.
3.    Highstand system tract
Meupakan kelanjutan dari TST dimana muka iar laut mulai stabil menghasilkan endapan shale tipis dan ketika muka air laut mulai turun dengan lambat.

Batas sikuen (Sequence Boundary)
Ada dua versi dalam menentukan satu siklus sikuen stratigrafi yaitu :
1.    Exxon sequences
Membagi sikuen berdasarkan ketidakselarasan. Batas SB merupakan ketidakselarasan yang merupakan permukaan bidang erosi yang terjadi dibagian bawah dan atas satu siklus sikuen.
2.    Galloway sequences
Membagi sikuen berdasarkan batas MSF yang dicirikan oleh kehadiran condensed sec
KARAKTERISASI RESERVOAR DENGAN SEISMIK

Karakterisasi reservoar dengan menggunakan data seismik dapat dilakukan dengan beberapa cara didalam kerangka sikuen stratigrafi, yaitu :
1.    Analisis Impedansi akustik
2.    Analisis Atribut frekuensi
3.    Analisis atribut Amplitudo
4.    Analisis Amplitudo versus Offset (AVO)
Penggunakan data sesimik ini tidak terlepas dari data sumur yang menunjukkan resolusi vertikal yang baik dan didukung oleh data seismik sebagai kontrol lateralnya.

SEISMIK


Gelombang seismik yang berasal dari permukaan akan dipantulkan kembali oleh bidang permukaan lapisan batuan karena adanya perbedaan impedansi akustik batuan yang disebut juga sebagai bidang refleksi. Gelombang ini akan direkam oleh geophone berupa waktu datang gelombang (milidetik) dan besar amplitudo yang dihasilkan oleh bidang  refleksi tersebut. Semakin besar perbedaan impedansi akustik batuan akan semakin besar amplitudo yang dihasilkannya. Hubungan impedansi akustik batuan dengan amplitudo seismik dinyatakan dengan hubungan sebagai berikut (Sukmono, 2001):


KR = (IA2 – IA1) / (IA1 + IA2)

KR = koefisien refleksi
IA = impedansi akustik (densitas batuan)

Semakin besar perbedaan impedansi akustik, semakin besar koefisien refleksinya dan semakin besar amplitudo yang dihasilkannya.

Pada data seismik konvensional, data yang dapat diinterpretasikan hanya berupa data bidang refleksi itu sendiri, sedangkan semua fenomena yang ada didalam lapisan tidak dapat diinterpretasikan dengan baik. Melihat keadaan ini maka telah dilakukan proses pembalikan (inversi) yang membalikan data seismik agar dapat memberikan gambaran tentang perbedaan densitas batuan yang dilaluinya.

Seismik inversi (Impedansi akustik)

Seismik inversi adalah suatu teknik untuk membuat model bawah permukaan dengan menggunakan data seismik sebagai input dan data sumur sebagai kontrol (Sukmono, 1985). Berdasarkan definisi ini maka teknik ini dapat dianggap sebagai kebalikan pemodelan kedepan dimana dihasilkan penampang seismik berdasarkan model bumi. Perbedaan antara kedua model ini dapat digambarkan sebagai berikut :

Pemodelan kedepan/seismik konvensional
Bumi (sebagai input)  ®  proses seismik  ®  penampang seismik (output)

Pemodelan kebelakang/seismik inversi
Penampang seismik (input) ®  algoritma perhitungan  ®  model bumi (output)

Ilustrasi hal diatas ditunjukkan pada Gambar 1

Dengan persamaan diatas diketahui bahwa harga kontras IA dapat diperkirakan dari amplitudo refleksinya yaitu semakin besar amplitudo semakin besar refleksi dan kontras IA nya.

Dari data tersebut terlihat bahwa  seismik konvensional akan melihat obyek bawah permukaan dalam bentuk bidang batas antara lapisan batuan, sedangkan IA hasil inversi akan melihat bawah permukaan sebagai lapisan itu sendiri., sehingga gambaran didalam lapisan dapat terlihat jelas (Gambar 2).








Analisa data seismik dapat pula dilakukan dengan beberapa proses untuk mendapatkan atribut (attribute) seismik yang digunakan sehingga dapat memberikan gambaran pola seismik yang lebih jelas dari data konvensional untuk dapat meningkatkan interpretasi geologi. Atribut seismik sendiri memiliki arti derivatif / turunan dari suatu pengukuran seismik dasar (Sukmono, 2001).

Atribut Amplitudo

Atribut amplitudo sering digunakan dalam studi-studi stratigrafi karena perubahan lateral amplitudo dapat berarti perbedaan satuan batuan. Lingkungan yang kaya akan pasir umumnya akan memiliki amplitudo yang lebih tinggi dibandingkan dengan daerah yang kaya akan serpih. Perbedaan-perbedaan rasio batupasir-batuserpih dapat dengan mudah dilihat pada peta amplitudo. Salah satu kegunaan atribut amplitudo adalah untuk mempelajari batupasir pada sistem channel dan batupasir sistem delta (Sukmono, 2001).

Berbagai jenis atribut amplitudo primer (gambar 4) yang sering digunakan adalah sebagai berikut :
1.    Amplitudo RMS
2.    Amplitudo Absolut rata-rata
3.    Amplitudo Puncak Maksimum
4.    Amplitudo Puncak rata-rata
5.    Amplitudo palung maksimum
6.    Amplitudo palung rata-rata
7.    Amplitudo Absolut Maksimum
8.    Amplitudo Absolut Total
9.    Amplitudo total

Ilustrasi dari perhitungan atribut amplitudo dapat dilihat pada gambar 3.




 










Gambar 3 Ilustrasi perhitungan dalam atribut amplitudo puncak rata-rata.

-          Nilai amplitudo puncak rata-rata dari ilustrasi diatas adalah :
= (5 + 30 + 37 + 38 + 25)/5 = 27
                                1    N
     Amplitudo RMS = Ö   (  ---  Ã¥ a12 )
                                N   i =1
-          Nilai amplitudo RMS   =  Ö (1/8 ((52 + 02 + (-182) +(-102) +
302 + 372 + 382 + 252)) = 20.37
N = jumlah sampel amplitudo pada jendela analisis
a = besar amplitudo
                                            1    N
-          Nilai amplitudo absolut  = Ö      ---  Ã¥  l a1  l  = 20.38
                                                      N   i =1

-          Nilai amplitudo puncak maksimum = 39
-          Nilai palung maksimum =19
-          Nilai amplitudo palung rata-rata = l (-18-10)/2 l = 14
-          Nilai Amplitudo absolut maksimum = 38
-          Nilai amplitudo absolut total= (5+0+18+10+30+37+38+25) = 163
-          Nilai amplitudo total = (5+0-18-10+30+37+38+25) = 107

 
 





















 
Analisis Atribut frekuensi / Atribut kompleks

Perhitungan atribut tras seismik kompleks pada dasarnya adalah suatu transformasi yang memisahkan informasi amplitudo dan sudut (fasa dan frekuensi) dalam displai terpisah. Kompleks disini berarti perhitungan yang dilakukan mengasumsikan bahwa tras seismik konvensional adalah merupakan bagian riil dari fungsi matematis kompleks. Penampang-penampang baruyang dihasilkan terkadang mampu mencitrakan lebih baik aspek geologi yang pada awalnya tersembunyi pada penampang konvensional.
Berbagai analisis frekuensi (gambar 5) antara lain adalah :
Kuat refleksi
Kuat refleksi tinggi sering berasosiasi dengan perubahan litologi tajam diantara lapisan batuan yang berdekatan, ketidakselarasan, sesar atau batas lingkungan pengendapan
Fasa sesaat
Fasa sesaat merupakan ukuran kemenerusan reflektor pada penampang seismik. Fasa sesaat akan cenderung menyamakan reflektor lemah dan kuat, oleh karena itu baik untuk interpretasi reflektor koheren yang lemah.
Frekuensi sesaat
Frekuensi sesaat merupakan alat yang baik untuk  melakukan korelasi.


Analisis Amplitudo versus Offset (AVO)

Amplitude Variation with Offset (AVO) atau Amplitude Variation with Angle (AVA). Analisis AVO merupakan analisis gelombang seismik yang menggunakan kecepatan gelombang primer (VP) dan kecepatan gelombang sekunder (VS).
VP akan bekerja pada batuan sebagai fungsi dari modulus bulk, modulus geser dan densitas batuan. Sedangkan VS akan bekrja pada batuan sebagai fungsi dari modulus bulk dan densitas batuan. Perbedaan yang mencolok adalah tidak adanya komponen modulus bulk pada VS, sehingga rasio VP / VS akan mengandung informasi litologi, fasies, kandungan pori (terutama kehadiran gas) dan sifat mekaniknya
 Poisson’s Ratio ( s )merupakan parameter elastik yang memiliki hubungan antara kecepatan gelombang P dan kecepatan gelombang S. Dengan menggunakan nilai khas Poisson’s Ratio dapat dikenali beberapa litologi sebagai berikut :
1.    Sedimen jenuh air asin dan tidak terkonsolidasi memiliki nilai PR = 0.40 atau lebih
2.    Poisson’n ratio menurun bersama dengan menurunya porositas
3.    Batupasir jenuh air asin dengan porositas tinggi memiliki nilai PR = 0.30 - 0.40
4.    Batupasir tersaturasi gas berporositas tinggi memiliki nilai 0.10



 

(Vp / Vs)2 – 2
                        s = ----------------------------
                                    2 [(Vp / Vs)2 – 1


Untuk dapat melakukan analisis AVO, perlu dilakukan dahulu analisis Poisson’s Ratio yang akan mempengaruhi variasi dari amplitudo terhadap offset. Secara teoritis nilai poisson’s ratio akan bervariasi antara 0 dan 0,5 dan mendekati nol untuk gas dan 0,5 untuk cairan.




















Pada kasus batupasir dengan porositas tinggi dan mengandung gas, maka pada analisis AVO akan memperlihatkan perubahan amplitudo dengan bertambahnya offset pada CDP gather. Jika dalam analisis AVO tidak terjadi perubahan amplitudo maka diinterpretasikan tidak adanya kandungan gas pada lapisan tersebut.

Dari beberapa persamaan dalam melakukan analisis AVO didapatkan persamaan Zeoppritz yang paling sederhana :

R(q) = (Rp – 2 Rs) sin2 q

Dimana R(q) = Nilai koefisien pada sudut q
   Rp   = Koefisien refleksi gelombang P pada sudut datang normal
   G     = Nilai gradien yang besarnya dipengaruhi oleh nilai rasio
              Poisson

Dengan pendekatan Zeoppritz dapat dilakukan analisis AVO dengan terlebih dahulu mengetahui nilai :

1.    Kecepatan gelombang P (log sonik)
2.    Kecepatan gelombang S (log sonik)
3.    Densitas batuan (log densitas)
4.    Nilai impedansi akustik (IA)
5.    nilai koefisien refleksi gelombang P dan S (Rp dan Rs)
6.    Besar sudut  q atau jarak yang diingikan dalam perhitungan




Terlihat bahwa lapisan Hartshorn pada top dan bottom lapisan mengalami perubahan nilai amplitudo hingga bahkan berbalik dari puncak menjadi palung. Hal ini menunjukkan adanya kandungan gas pada lapisan tersebut dengan nilai porositas yang baik. Pada hasil seismik yang telah dilakukan stack, kenampakan perubahan amplitudo menjadi hilang / tidak nampak.

Comments

Popular posts from this blog

Monitoring dan laporan drilling migas (mudlogger)

MONITORING DAN SISTIM PELAPORAN 2.1. DRILLING MONITOR Pengamatan dan pencatatan  semua parameter drilling baik saat drilling ataupun reaming, tiap 5 menit atau jika terjadi perubahan parameter. Hal ini untuk mengetahui lebih cepat bila terjadi perubahan parameter atau memudahkan pencarian data bila sewaktu-waktu terjadi pertanyaan.  Adapun parameter yang perlu dicatat/diamati ( waktu (jam,mnt), depth, RPM, WOB, ROP, Flow rate (gpm), SPP, Torque, hook load, gas, total pit volume, G/L ) pencatatan dalam bentuk tabulasi. Cocokkan semua parameter dengan rig floor Perubahan WOB yang significant, konfirmasikan dengan rig flor ROP cepat ( drilling break) maupun ROP lambat (reverse break) spot sample dan perhatikan gas setelah bottom up. SPP >> kemungkinan nozzle plug/buntu sebagian, annulus penuh cutting, atau surface line problem.  SPP << wash pipe, pipa putus/bit lepas , atau surface line. Perubahan Flow r...

Model Fasies Walker

Model Kipas Bawah Laut Walker Menurut Walker 1978, secara garis besar kipas bawah laut dibagi menjadi 3 bagian, yaitu : kipas atas (upper fan), kipas tengah (middle fan), dan kipas bawah (lower fan). a) Kipas Atas (upper fan) Kipas atas merupakan pengendapan pertama dari suatu sistem kipas laut dalam, yang merupakan tempat dimana aliran gravitasi itu terhenti oleh perubahan kemiringan. Oleh karena itu, seandainya aliran pekat (gravitasi endapan ulang) ini membawa fragmen ukuran besar, maka tempat fragmen kasar tersebut diendapkan 69 adalah bagian ini. Fragmen kasar dapat berupa batupasir dan konglomerat yang dapat digolongkan ke dalam fasies A,B dan F. Bentuk lembah-lembah pada kipas atas ini bermacam-macam, bias bersifat meander, bias juga hampir berkelok (low sinuosity). Mungkin hal ini berhubungan dengan kemiringan dan kecepatan arus melaluinya, ukuran kipas atas ini cukup besar dan bervariasi tergantung besar dan kecilnya kipas itu sendiri. Lebarnya bisa mencapai mula...

BOP Subsea (Blow Out Preventer Subsea)

       Dengan semakin tingginya kebutuhan energi pada saat ini maka industri pengeboran lepas pantai dituntut untuk bisa mengeksplorasi lautan atau daerah yang belum bisa dijamah sebelumya. Saat ini disain yang paling mutakhir adalah untuk kedalaman laut sampai 14.000 ft (4266 meter). Dikarenakan jarak atau kedalaman laut yang sangat dalam ini maka bidang pengontrolan sumur pun harus mampu mengikuti perkembangan tersebut. Blow Out Preventer (BOP) merupakan secondary well control. Maksudnya adalah bahwa BOP hanya berada di urutan kedua dalam proses pengendalian sumur. Primary well control menggunakan lumpur, karena lumpur akan menjembatani antara kita yang berada di permukaan dan sumur. Seandainya lumpur sudah tidak mampu lagi mengendalikan sumur maka BOP akan berfungsi untuk mengisolasi sumur untuk sementara waktu. Sistem kontrol BOP adalah suatu sistem yang digunakan untuk melakukan pengontrolan BOP yang terpasang di dasar laut atau di permukaan. Pada saat ini ad...